Enise 's Diary
One; CLUELESS
P.s: The Diary is based on true story
Language: Bahasa Indonesia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Kamis, 22 Juni 2017
(Thursday, 22 June 2017)
I writte this one, because i don't know how to forget the things i sould forget. How to not remember the things i sould not remember.
Clueless, begitulah kondisi yang kualami saat ini. Clueless.
Kau tahu apa yang paling kubenci dalam hidupku?
Ketika aku melupakan seseorang yang pernah mewarnai hari-hariku, melupakan bagaimana rupanya, siapa namanya, dimana ia tinggal sekarang. Dan tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Apakah ia masih sehat, apakah ia sedang merintis karir, apakah ia semakin tampan, apakah ia hidup bahagia, atau apakah ia sudah.... tiada.
It sucks, right?
Dan aku sangat benci lagi dengan keadaanku sekarang yang tiba-tiba mengingat sosok itu, dan bertanya-tanya pada bayangan tanpa menemukan jawaban. Karena sesungguhnya aku tak tahu bagaimana cara memulainya, cara bagaimana menanyakan si 'dia' yang bahkan sudah kulupakan namanya. Clueless.
Jika kamu ingin tahu bagaimana detail luapan emosiku yang baru saja aku ungkapkan, maka akan ku tuturkan dengan (mudah-mudahan) baik dan benar.
Dahulu, saat aku masih berusia sekitar 8-9 tahunan, aku dipertemukan dengan sosok yang baru saja aku ceritakan.
Aku dan keluargaku mengunjungi rumahnya yang sederhana dan terlihat nyaman.
Dia membuka pintu dengan wajah polos. Aku tak dapat mengingat bagaimana rupanya, namun... aku hanya tahu bahwa 'anak' itu memiliki wajah tampan yang berseri-seri (tanpa tahu bagaimana bentuk wajahnya) yang aku tahu hanya, dia anak yang tampan. Pandangan kami bertemu saat itu, dan tak dapat kupungkiri, aku langsung terpana dengan sosoknya. Namun, kusembunyikan ekspresiku yang tersipu malu agar kedua orang tuaku tak menyadari bagaimana berbunga-bunganya aku saat itu.
Itu pertemuan pertama kami. Karena kedua orang tua kami berteman, maka dengan mudah kami menjadi akrab. Sehingga aku akan terus merengek agar dapat mengunjungi rumahnya, lagi dan lagi.
Aku ingat bahwa ia memiliki model rambut yang menggemaskan. Sehingga aku akan tersenyum lebar saat melihatnya berlari-lari, sedang rambutnya bergerak naik turun.
Aku ingat, betapa lucunya dia saat menunjukkan ketertarikkannya padaku. I mean, when a little girl and a little boy adore each other, i think it's super cute to see both of them become shy when they're seeing each other.
Aku sering menggodanya, dan ia akan mengejarku, membalas perbuatanku. Dan begitu terus sampai kami kelelahan.
Kami sering bermain permainan komputer dirumahnya. Paling sering permainan horror. Waktu itu, ia akan menarik kursi dan menempatkannya di sebelah kursinya, sehingga kami berdua duduk berdekatan. Jika ada sesuatu yang mengagetkan, dan aku teriak ketakutan, ia akan menertawakanku. Tapi jika ia kaget, ia akan memelukku sambil tertawa.
Kami sangat dekat, bahkan sudah seperti saudara.
Orang-orang dewasa yang melihat tingkah kami, beberapanya menggodaku. Mengatakan bahwa ia adalah kekasihku, dan aku mengelak dengan semburat merah di pipiku.
Dulu, aku tak mengerti apa itu 'kekasih'. Bagaimana cara menjalinnya, dan bagaimana bisa orang-orang menganggap kami dengan istilah demikian. Aku tak mau tahu itu. Yang dulu aku pikirkan hanyalah, bagaimana aku bisa berada di dekatnya selama mungkin.
Namun, pertemuan kami terlalu singkat. Kami berhenti mengunjungi rumah masing-masing. Dan setelah itu, tiba-tiba ia pindah keluar kota. Ke kota dimana aku dilahirkan.
Kemudian kupikir, kami akan tetap mudah bertemu karena ia tinggal di kota kelahiranku yang sering aku kunjungi.
Hari libur telah tiba, dan aku mengunjunginya ke kota itu. Namun, ia tak ada dirumahnya. Tak kusangka setelah itu, kami tidaklah lagi bertemu. Hingga aku kini tinggal di kota yang sama, lulus SMA dan mungkin seterusnya. Hingga aku melupakan bagaimana rupanya, siapa namanya, dan dimana tempat tinggalnya.
Aku benar-benar melupakan semua tentangnya. Kecuali beberapa potong ingatan yang sangat mengesankanku.
Lalu.. sekarang ingatanku di usik lagi dengan kenangan itu. Sehingga membuatku gatal, ingin sekali mengetik namanya di kolom pencarian media sosial. Namun, apa boleh buat? Aku tak mengingat namanya. Tak satupun di keluargaku yang mengingat semua tentangnya.
Dan ingatan itu terus menghantuiku. Membuatku khawatir, resah, dan sedih.
Mungkin ia tak mengingatku, sebagaimana aku tak mengingatnya. Mungkin kami berpapasan di jalan sebagai orang asing, tanpa menyadari kenangan masing-masing.
Hal-hal seperti itu yang membuatku merasa kesal. Sangat kesal!
Bagaimana bisa aku melupakan satu-satunya teman yang tak pernah mengecewakanku? Dan bagaimana bisa aku merindukan seseorang yang sudah sangat asing dalam kehidupanku?
Seperti merindukan bayangan tanpa wajah dan identitas. So annoying and frustrating.
Aku tak tahu bagaimana caranya mengobati perasaanku ini. Aku tak tahu!
Sungguh! Sepertinya aku tak pandai dalam hal apapun. Bahkan dalam mengingat kawan kecil tampan yang menyenangkan!
Jika saja aku diberi kesempatan untuk mengulang masa lalu, jika saja dulu aku sedikit pintar dan cekatan, maka... akan ku catat namanya di dalam sebuah buku yang kemudian hari kutemukan di dalam tumpukan kardus, barang-barang bekasku. Jika saja terjadi hal yang seperti itu...
Jika saja... aku tidak se-clueless ini,
Mungkin aku akan tahu,
Bagaimana harus merindukan sosoknya dengan cara yang benar.
Love,
A fool little girl who suddenly missing you and feel loosing the most beautiful thing in her life ❤
Tidak ada komentar:
Posting Komentar